SantriNews. Rabu 21/2/2018
![]() |
| Masjid Kufah-Irak tempat Khalifah Sayyidina Ali menapuk pemerintahan Islamiyah |
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” (QS. Al Mu’minuun 23 : 1-2).
Kisah nyata bahwa ada seorang ahli ibadah bernama
Isam bin Yusuf, dia sangat wara dan terkenal sangat khusyuk shalatnya. Namun
demikian dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu
bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk
memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyu'
![]() |
| Masjid Sayyid Muhammad Mahdi |
Pada suatu hari Isam menghadiri majelis seorang abid
bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: “Wahai Aba Abdurrahman (nama panggilan
Hatim), bagaimanakah caranya Anda shalat?” Berkata Hatim: “Apabila masuk waktu
shalat, aku berwudhu’ lahir dan batin.” Bertanya Isam: “Bagaimana wudhu batin
itu?” Berkata Hatim: “Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua
anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan
7 perkara:
1. Bertaubat. Meninggalkan maksiat.
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan.
3. Tidak tergila-gila dengan dunia.
4. Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari
manusia
5. Meninggalkan sifat bermegah-megahan.
6. Meninggalkan sifat khianat dan menipu.
7. Meninggalkan sifat dengki.” .
.
Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke
Masjid, kusiapkan semua anggota tubuhku dan menghadap kiblat. Aku berdiri
dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, surga di
sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku.
![]() |
| Masjid Sayyid Muhammad Mahdi bin Sayyid Hasan |
Dan kubayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri
di atas jembatan Shiratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini
adalah shalat terakhir bagiku (karena aku merasa akan mati setelah shalat ini).
Kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. SETIAP BACAAN dan do’a dalam
shalat AKU FAHAMI MAKNANYA. Kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadu’ (merasa
hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam
dengan ikhlas. Beginilah aku shalat selama 30 tahun.
(Liputan Santri Nusantara/WAG)



Komentar
Posting Komentar